RESUME  BUKU

“6  Pola Sukses Mendidik Anak Menjadi Kreatif"

(Merevolusi Cara Berpikir Anak Indonesia)”

 

Buku berjumlah 129 halaman ini ditulis oleh Ling Mangajaya diterbitkan oleh Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia di Jakarta , tahun 2013.

Cover buku ini menggunakan warna kuning pastel menarik dengan angka 6 yang menjadi sorot utama secara visual. Angka 6 yang menggunakan warna pink terang yang didalamnya juga tercetak beberapa kata yang merupakan bagian dari judul buku dan nama penulis. Desain karikatur yang apik sepertinya dipilih ilustrator untuk menggambarkan seolah- olah seperti inilah karya kretaif yang dapat dihasilkan anak- anak jika mereka dididik menajdi kreatif. Dibagian atas cover buku terdapat ulasan buku yang dibuat oleh Edward De Bono yang isinya : “Punya pemikiran kreatid bukanlah talenta yang ajaib. Itu merupakan sebuah keterampilan yang bisa dilatih dan dikembangkan”.

Untuk isi buku sendiri terdiri atas 6 bab. Pada bab pertama penulis menjabarkan tentang berpikur kreatif. Penulis diawal berusaha mengajak pembaca untuk pelan- pelan membantah anggapan bahwa anak cerdas satu paket dengan kreatif. Bahwasanya anggapan bahwa jika aak itu tidak memiliki prestasi diawal-awal masa sekolahnya makan selamanya akan demikian karena –toh sudah “dari sana”nya-.  Hubungan antara kecerdasa dengan kemampuan berpikir kreatif seperti smartphone dan penggunanya. Secanggih apapun smartphone yang dimiliki jika [enggunanya tidak dapat memaksimalkannya , maka smaa saja smartphone terseut memiliki fungsi yang setara dengan HP yang seharga 100 ribuan. Sekali lagi dalam bab pertama, pemabaca diajak membongkar stigma lama bahwa kreatif berpikir berbeda dengan kreatf artistik. Pandai membuat lagu, melukis, mendesain dan hal estetik lainnya bukan berarti anak tersebut kretaif. Begitupun juga dengan kecerdasan intelegensi bukanlah takaran bahwa anak itu kreatif berpikir. Bahkan disbutkan bahwa semua orang dengan tingkat berpikir level manapun dapat dilatih agar kekmampuan berpikirnya terasah. Lebih jauh penulis menuliskan bahwa metode De Bono yang telah dipraktekkan dibeberapa negara dengan tidak terkungkung pada tes kecerdasan saja.

Penulis memaparkan bahwa selama ini di Indonesia sendiri, kurikulum nasionalnya masih menempatkan sekolah sebagai tempat menghafal dengan menuntut keseragaman pola berpikir. Dengan demikian, makan terbataslah berpikirnya siswa Indonesia. Soal yangdihadirkandalam ujian dituntut untuk menemukan benar atau slah. Memilih opsi yang kesannya mempermudah menemukan jawaban. Padahal dalam kehidupan nyata, dunia tidak menuntut kita menemukan benar atau salah tapi bagaimana untuk suurvive ketika menemukan permasalahan.

Penulis mencoba mengangkat metode De Bono yaitu Cognitive research Trust  yang merombak mindset bahwa keterampilan berpikir itu merupakan bawaan. Berpikir layaknya keterampilan yang bisa diasah, diajarkan dan dikembangkan oleh satu manusia ke manusia lainnya. De Bono memiliki pendapat bahwa “memberi tugas yang terlampau sulit justru terkdang memancing rasa frustasi, rendah diri, kehilangan semangat, atau ektremnya malah jadi menolak tugas”.

Buku ini mengungkap sebuah sudut pandang bahwa berpikir kritis dan kemampuan berargumen ini mematikan peluang untuk berpikir kreatif. Sementara untuk menjalani kehidupan , anak- anak dituntut untuk kreatif dan inovatif. Kritis dan Argumen ala 3 sekawan Yunani (Sokrates, Plato, dan Aristoteles) mengedepankan asas benar salah dengan menjadikan sudut pandang yang berbeda dengan kita dalah salah. 

De Bono adalah dosen di beberapa fakultas, juga seorang pakar psikologi dan fisiologi dan  merupakan orang yang mencetuskan kata “Lateral Thinking”, suatu kata yang diajdikan frase dalam kamus Bahasa Oxford. Lateral thinking adalah cara berpikir modern denga melihat masalah dan mendapatkan solusi dari berbagai arah, tidak hanya sama dengan pemikiran konvensional yang berfikir secara vertikal. Lateral thinking menjadikan orang lebih kreatif dan menemukan banyak solusi secara menakjubkan.

Dan akhirnya pda bab 5 dan 6, diantarlah kita untuk memahami “6 TOPI BERPIKIR” yang ternyata sudah dicetuskan sejak tahun 1984 dan mulai dipraktikkan di segala penjuru dunia. Program pelatihan berpikir ala De Bono berusaha menekankan bahwa berpikir adalah hal menyenangkan dengan menjadikan ASPEK KEMUNGKINAN adalah alternatif BENAR/ SALAH. Dianalogikan menjadi TOPI agar mudah dipahami ketimbang membawa tokoh  3 sekawan Yunani. Berikut penjabaran 6 topi putih untuk mengembangkan kreatifitas anak.

1.                  Berpikir ala TOPI PUTIH adalah menyajikan informasi yang kita miliki,  informsi yang tidak ada, serta bagaimana mendapatkan informasi yang kita butuhkan.

2.                  TOPI MERAH melambangkan emosi dan intuisi

3.                  TOPI HITAM menyatakan aspek negatif dari suatu keadaan

4.                  TOPI KUNING adalah ekspresi optimistis dan pikiran positif

5.                  TOPI HIJAU adalah luapan gagasan dan kreativitas baru

6.                  TOPI BIRU mengndalikan dan mengatur proses berpikir.

Ke enam topi berpikir tersebut diharapkan dimiliki oleh semua orang. Semua anak, semua guru semua orangtua. Semuanya... jangan menekan dengan 1 topi saja. Namun, tentu topi ini tidak perlu diguankan secara bersamaan dalam satu waktu, bisa disesuaikan tergantung tingkat kesulitan masalahnya. Dan inilah yang perlu dilatih. Mengajak orang lain dengan pemahaman 6 topi ini untuk menemukan solusi kreatif dari sebuah masalh juga perlu. Misalnya menematkan ayah sebagai topi putih, kakak sebagai topi merah, adik yang mengunakan topi hijau, dan ibu yang menggunakan topi birunya. Jadi berpikir menggunakan logika betul tapi tetap melibatkan emosi, inruisi dan perasaan. Bagaimana cara memulainya, mulailah dari sekarang...

Komentar