KELUARGA, PRIORITAS UTAMA DI “USIA JEMBATAN”

 Sobat, siapa diantara kalian ditahun 2020 ini telah menginjak usia 30 tahun? Jika itu kamu, maka kita dalam posisi yang sama. Apakah yang pertama kali terlintas dibenakmu ketika mendengar atau melihat seseorang telah menginjak usia 30 tahun? Sebagian besar presepsi orang Indonesia dalam norma sosial yang berlaku dalam masyarakat kita, kehidupan diusia 30 tahun adalah kehidupan dengan peningkatan finansial, sudah berkeluarga, dan memiliki tanggung jawab yang lebih baik itu dalam keluarga maupun dalam lingkungan masyarakat. Presepsi inilah yag kemudian membawa sebagian diantara kita mulai resah, gelisah, gundah, dan gulana bila belum bertemu jodoh. Sebab hal pertama yang mungkin dipertanyakn ketika sedang bertemu sanak saudara adalah pasangan dan kerjaan, benar atau betul? Haha..

Beberapa orang yang saya temui berasumsi bahwa usia 30 tahun itu merupakan jembatan menuju usia paruh baya. Saya sendiri sedari kecil dijejali dengan pernyataan “tingkatkan kualitasmu diusia 30 tahun, sebab seperti apa kamu diusia 30 tahun akan menentukan kualitas hidupmu dimasa tua. Termasuk dalam hal fisik/kesehatan, finansial, keluarga, investasi, dan prinsip hidup”.  Seorang ahli psikologi dari Inggris , Oliver Robinson menjeaskan pada New Scientist bahwa tak jarang krisis kehidupan sering terjadi diusia 30 tahun. Manusia akan menjadi lebih kritis dengan hal- hal yang terjadi dengan hidupnya sehingga menimbulkan keinginan untuk berubah, menemukan rencana keluar dari situasi yang terasa statis, dan membangun kembali sebuah kehidupan. Sehingga dibeberapa kasus perselingkuhan kebanyakan didominasi dengan oleh pasangan dengan salah satu diantaranya berusia 30 tahun. Tapi ini bukanlah sebuah acuan, sebab banyak pula yang melewati fase iusia ini dengan baik- baik saja sebab usia 30 tahun dapat dikatakan adalah usia dewasa dimana kematangan pikiran cenderung mengantarkan orang dewasa melihat hal dari sisi positifnya. Menuntaskan emosinya, kemudian mengolahnya dengan nalar untuk kemudian jika hal yang dipikirkannya itu adlaah hal negatif maka segera disingkirkan dengan sendirinya. Bahkan akan hilang seiring dengan berjalannya kehidupan sebagaimana mestinya. Maka dari sini, kita mungkin sedikit menarik kesimpulan bahwa teman- teman yang berkualitas sangat dibutuhkan pada “usia jembatan” ini. Teman- teman yang berkualitas akan melibatkan kita dengan hal- hal baik untuk meningkatkan kualitas diri, mislnya saja ajakn berhemat, dorongan berolahrga, memperbaiki penampilan, memberi ide investasi, saling mengirim masukan untuk mengatasi masalah keluarga, dan banyak hal lainnya.

Bagi saya, menginjak usia 30 tahun atau “usia jembatan” ini, menentukan prioritas hidup yang perlu digarap pada masa ini adalah hal yang paling utama. Sebab dengan menentukan prioritas, kita akan terdorong untuk merencanakan, mengorganize, menjalankan, hingga mengontrol prioritas tersebut agar sesuai dengan yang kita harapkan tentu dengan maksud meningkatkan kualiatas hidup diusia selanjutnya. Tantangan berat sekalipun jika kita telah memiliki prioritas utama untuk tujuan hidup kita, maka semuanya akan mampu terlewati. Mungkin beberapa diantara kita ada yang memprioritasakan kebuagaran, kesehatan, karir, asmara, keuangan, atau keluarga. Saya sendiri memilih untuk memprioritaskan keluarga. Sebab dari sini, karir, rumah tangga, keuangan, bahkan spritual kita akan meningkat dengan sendirinya. Seseorang yang memprioritaskan keluarga akan terus membenahi kualitas dirinya agar keluarga yang dimiliknya berada dalam pantauannya dengan kondisi baik- baik saj. Misal, seorang ibu berusia 30 tahun dan telah berkeluarga dengan memprioritaskann keluarganya sebagai target perbaikannya diusia jembatannya, maka dia akan :

1.      Keimanan : semakin sering mendekatkan diri kepada Rabb nya dengan  harapan doa- doa baiknya untuk keluarganya dikabulkan

2.      Kesehatan : senantiasa menjaga pola makan dan menerapkan pola hidup sehat dengan harapan diberi kesehatan dan kebugaran untuk terus menjaga dan merawat keluarganya meski usianya akan terus menua.

3.      Kecantikan : merawat tubuh dan wajahnya agar membuat suaminya nyaman

4.      Keuangan : mulai memikirkan investasi jangka panjang, membuat tabungan masa depan, atau melakukan penghematan dengan harapan segala kebutuhan keluarga dapat terpenuhi.

5.      Karir/pekerjaan : jika seorang ibu rumah tangga yang bekerja akan senantiasa menjaga kualitas pekerjaannya bahkan mungkin berusaha untuk menaikkan level karirnya menajadi lebih baik lagi agar terus terpenuhi finansial keluarganya melalui gaji  yang diterima.

Ini jika kita melihat dari sosok ibu rumah tangga. Lalu bagaiman dengan yang belum berumah tangga? Tenang sob, keluarga dalam hal ini bukan melulu sepasang suami istri dan anak- anaknya. Keluarga disini juga mencakup orangtua dan saudara- saudara terdekat. Seorang anak yang berusia 30 tahun yang mempriortaskan keluarganya pasti akan melakuan hal- hal positif untuk menyokong keluarganya dan mempertahankan kebersamaan dengan keluarganya itu. Mulai saat ini, cobalah prioritaskan keluarga dan lakukan beberapa target perbaikan dalam beberapa sisi kehidupan yang kamu miliki misalnya dari 4 sisi kehidupan yang saya coba jabarkan diatas. Nah, ingatkah di usia jembatan ini, kita cukup tau mana hal yang buruk dan baik. Mana yang salah dan benar. Tentu godaan akan datang kapan dan dimana saja termasuk godaan dalam pernikahan. Yang perlu kita tingkatakan adalah pengontrolan diri. Bahkan jika kamu berada dalam kondisi terjebak kesalahan, segera tarik dirimu. berhenti sejejank, merenung, pusatkan fikiranmu untuk menemukan energi terbesar dalam dirimu untuk meninggalkan hal tersebut, memutar kendali dan mencoba memperbaiki kesalahan.

Nah, jika kamu belum meraa melakukan apa- apa, segera buat targetmu sekarang juga mumpung diakhir tahun 2020. Barangkali kamu juga bisa menjadikan resolusimu untuk tahun depan. Ingat yah sob... usia jembatan adalah usia yang akan menentukan kemana stir kehidupanmu akan kau arahkan dan menemukan jalan pulang terbaikmu.

Komentar