MELEPASKAN INGATAN MASA LALU, BISAKAH?

 Tahun berganti, peristiwa pun berlalu. Kejadian manis dan pahit pada masa sebelumnya dihapus oleh waktu. Dihapus? Ya, tentu saja. Sebab apa yang telah terjadi hari kemarin tidak akan terulang hari ini. Waktu mampu menghapus pertistiwa namun ingatan adalah hal yang tidak dapat diintervensi oleh waktu. Ingatan memiliki kekuatan tersendiri dan hanya Sang Khalik yang mampu menghentikannya dengan cara yang dikehendakiNya. Mungkin kamu pernah bertemu seseorang yang menceritakan kenangan manis masa lalunya sedetail-detailnya begitupun juga dengan kenangan yang menyakitkan baginya. Jika kamu seorang pendengar yang baik, maka mungkin kamu akan terkesima mengamati orang yang bercerita tersebut, betapa setiap kata demi kata dan rentetan kejadian yang diceritakannya begitu nyata dan tersusun sesuai alur kejadiannya. Kamu mungkin merasa menjadi penonton layar lebar.

Kita sendiri juga mungkin memiliki ingatan yang masih segar tentang masa pertama kali mendapatkan kado ulangtahun dari orangtua tersayang atau saat pertama kali jatuh cinta. Hal ini tentu ada kaitannya dengan hati atau perasaan. Seberapa dalam perasaan yang ditimbulkan akibat sebuah pertistiwa maka sedalam itu pula pikiran kita akan terus mengingatnya. Semakin dalam semakin lekat. Baik itu membahagiakan maupun menyakitkan. Bukan hanya pikiran yang mampu mengingatnya, hati pun mampu merasakan kembali rasa yang pernah ditimbulkan karena peristiwa tersebut. Mungkin saya akan sedikit menyentuh sisi romantisme kamu. Coba deh, ingat sekali lagi saat pertama kali kamu dikecewakan oleh seseorang yang sangat kamu cintai. Sebagian besar dari kamu akan sangat ingat detail kejadiannya mulai dari baju yang kamu gunakan, tempat kejadian, waktu hingga cuaca yang menyelimutimu kala itu. Sudah.. sudah.. kalau saat ini dadamu terasa ngilu atau sakit, tarik nafas sejenak, hembuskan, lalu segera berucap syukur karena fase menyakitkan tersebut telah kamu lewati dan saat ini kamu masih menghirup nafas gratis pemberian Yang Maha Kuasa. Masya Allah... sedikit terlupakan, bukan? Wah.. lupa? Hmm.. yuk lanjut bacanya yah...

Lalu, bagaimana dengan perkara “lupa”? Bukankah lupa juga bagian dari aktivitas mengingat. Lupa adalah kondisi dimana kita tidak mengingat sebuah peristiwa. Wah, mungkin sebab inilah sebuah kalimat bijak lahir “Manusia adalah tempatnya lupa”. Bagaimana lupa dengan kalimat yang sering kita dengar “lupakan aja deh... gak ada gunanya diingat” atau “kenapa bisa lupa? Padahal itu penting loh”. Atau sebuah kalimat penyesalan “Astaga, kok bisa lupa”, atau “ahh... saya ini benar-benar pelupa. Seandainya saya tidak lupa, pasti tidak akan begini kejadiannya”.

Apa sih yang menyebabkan seseorang melupakan suatu hal padahal sesungguhnya dia dalam kondisi sehat fisik dan mental. Gini yah, sekali lagi jika kondisinya tidak sakit, dia tidak punya masalah apapun yeng membuat jiwanya terusik, mengapa seseorang tersebut masih saja melupakan sesuatu? Ketika ditanya demikian, alibi yang sering kita dengar adalah “yah... memang dia sifatnya pelupa”. Yakin kalo pelupa itu adalah sifat? Menurut pandangan saya, pelupa itu bukan sifat tapi lebih kepada sikapnya. Jadi PELUPA adalah SIKAP, bukan SIFAT. Disini, jika kamu masuk kategori pelupa maka sifat dasar yang kamu miliki adalah sering mengabaikan sesuatu atau acuh. Karena sifat pengabai itu, maka muncullah sikap pelupa. Jika begitu, apa yang diabaikan? Jawabnya adalah “PERASAAN”. Seseorang menjadi pelupa jika dia tidak mampu menempatkan perasaan terhadap sesuatu termasuk benda mati. Misalnya , kamu sering lupa dimana meletakkan kunci mobil, dan ini sering sekali berulang bahkan beberapa kali karena sikap lupamu ini kamu bahkan harus terlambat ke tempat kerja dan menukan kesulitan lainnya. namun, meski begitu tetap saja kamu masih mengulangi perilakumu itu. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena kamu tidak memberi rasa terhadap kunci mobilmu itu. Atau tidak menaruh perhatian terhadap kunci mobilmu. Kau tidak begitu mencintainya. Wah... wah... bukannya itu hanya sekedar kunci mobil? Mengapa harus mencintainya. Sampai disini kamu mungkin akan tertawa, hihi.. bagaimana bisa kamu mencintainya? tapi coba dipikir lagi deh... kamu mengabaikan hal yang sebenarnya penting buatmu. Hal yang sebenarnya sangat berarti dan memberikan kebaikan buatmu. Mengapa tidak mencoba memebri perhatian lebih. Belajar memberi rasa padanya. Misanya, “menghadiahkan” cover kunci dengan warna yang mencolok atau motif yang kamu suka sehingga lebih menarik mata dan menyiapkan tempat khusus untuk meletakkannya tiap kali kamu tiba di rumah di tempat yang mudah kamu temukan. Perlahan, kamu sedikit mengubah sifat acuhmu menjadi perhatian. Dan setelah rasa cinta yang muncul terhadap kunci mobilmu itu, lihatlah apa yang kunci mobilmu akan hadiahkan padamu? Wah.. sampai disini ngakak lagi yah? Haha.. si kunci mobil saat ini kini sudah menjelma seperti seorang manusia yang juga tau balas budi sekarang yah.. Iya dong... kunci mobil yang mulai kamu hadiahi dengan “baju” dan “kamar” yang baik akan menghadiahimu hari- hari kerja tanpa terlambat lagi hanya karena perkara kunci mobil, atau setidaknya mengurasi kegusaranmu tiap kali harus mencarinya saat dibutuhkan. Nah, ini hanya perkara kunci mobil loh.. bagaimana dengan benda dan hal- hal lain?

Ingatan dan perasaan adalah dua hal yang berbanding lurus. Meski begitu, yang memiliki peranan yang paling kuat adalah perasaan. Bagaimana dengan masa lalu? Mungkin jika hal yang indah, akan kita biarkan kuat dan melekat dalam ingatan dan perasaan. Namun masa lalu yang menyakitkan,bisakah untuk dilupakan? Jawabannya adalah TIDAK. Hanya ada satu hal yang dapat kita lakukan, yaitu perlahan mengabaikannya. Mengabaikannya dengan memberi perhatian terhadap hal baru yang kita temui. Melupakan seseorang dimasa lalu misalnya, mungkin akan sulit terutama jika porsi bahagia dan susahnya imbang. Karena suatu hal kamu harus meninggalkannya. Meninggalkan fisiknya mungkin mampu, melupakannya dalam ingatannya juga mustahil jika rasa yang tersimpan cukup dalam. Maka, segera pakai amunisi mengabaikan tadi yah... Istirahatlah sejenak, kumpulkan kekuatanmu untuk menggunakan amunisi “ABAI” tadi. Meski sulit, ini akan terdengar lebih melegakan daripada tidak melakukan perlawanan sama sekali. Sebagai pertimbangan, kejadian yang kamu temui hari ini ataupun dihari esok, sebaiknya kemaslah dengan tidak melibatkan rasa terlalu dalam. Bahagia dengan tidak berlebihan begitupun dengan bersedih dengan tidak terlalu dalam. Hanya ini satu- satunya hal yang dapat kamu lakukan agar tidak menciptakan masa depan dengan kenangan yang sulit terlupakan. Sebab tidak semua hal didunia ini yang selamanya abadi. Bahagia atau sedih tidak akan abadi. Dan tidak semua hal di dunia ini yang ingin kita simpan selamanya dalam ingatan. Jika rasa semakin dalam, maka akal jadikan pengontrol terbaik. Selalu sadarkan diri dengan prinsip bahwa tidak ada yang abadi dalam dunia ini, maka berilah porsi seadanya saja. Merenung kembali, menemukan kembali apa hal disekitarmu yang telah kamu abaikan dan perlu kamu beri perhatian. Sudahkah kamu mulai memberi rasa pada hal- hal kecil disekitarmu? Jika belum, coba direnungkan lagi.. libatkan kekuatan ingatan untuk menemukan hal yang perlu untuk kamu beri rasa tapi tentu dengan porsi secukupnya.

Komentar